Posted on

Cek Air Tambang: Aksi Mahasiswa Stikes Bangka Uji Kelayakan Minum

Keberlanjutan kualitas lingkungan di wilayah kepulauan yang kaya akan sumber daya mineral menjadi perhatian serius bagi dunia kesehatan, terutama melalui program Cek Air Tambang. Kepulauan Bangka Belitung memiliki tantangan tersendiri terkait bekas lahan galian yang sering kali menampung air dan digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam upaya preventif, aksi mahasiswa Stikes Bangka uji kelayakan minum dilakukan untuk memberikan kepastian medis kepada masyarakat mengenai keamanan sumber air tersebut. Langkah ini merupakan bentuk pengabdian nyata guna mencegah terjadinya keracunan logam berat atau penyakit kulit yang bisa muncul akibat konsumsi air yang telah terkontaminasi oleh sisa-sisa proses penambangan.

Dalam pelaksanaan Cek Air Tambang, para mahasiswa membawa peralatan laboratorium portabel untuk mendeteksi berbagai parameter fisik dan kimia. Melalui aksi mahasiswa Stikes Bangka uji kelayakan minum, mereka memeriksa tingkat keasaman (pH), kekeruhan, hingga kandungan zat berbahaya seperti timbal dan merkuri yang mungkin terlarut di dalam kolam bekas tambang atau sumur warga. Proses ini sangat edukatif bagi masyarakat lokal, karena mahasiswa tidak hanya memberikan hasil uji, tetapi juga menjelaskan dampak jangka panjang jika air tersebut tetap dikonsumsi tanpa pengolahan yang benar. Kesadaran akan kualitas air adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan ginjal dan sistem pencernaan penduduk di daerah lingkar tambang.

Keunggulan dari program Cek Air Tambang ini adalah penyediaan solusi praktis bagi warga yang sumber airnya terbukti tidak layak. Saat aksi mahasiswa Stikes Bangka uji kelayakan minum berlangsung, mereka juga mendemonstrasikan teknik filtrasi sederhana menggunakan bahan alam seperti arang aktif, pasir, dan batu kerikil untuk menurunkan kadar kontaminan. Mahasiswa berperan sebagai jembatan ilmu pengetahuan yang membantu warga beradaptasi dengan kondisi lingkungan mereka secara lebih sehat. Pendekatan ini sangat efektif untuk membangun kemandirian masyarakat dalam memantau kualitas sumber daya alam di sekitar mereka, sekaligus mengurangi beban biaya pembelian air bersih kemasan bagi keluarga menengah ke bawah.

Dukungan dari pemerintah daerah memperkuat jangkauan program Cek Air Tambang ke daerah-daerah terpencil yang memiliki aktivitas tambang rakyat yang intens. Hasil dari aksi mahasiswa Stikes Bangka uji kelayakan minum kemudian dilaporkan secara berkala kepada dinas kesehatan untuk dijadikan dasar kebijakan penyediaan sarana air bersih pemerintah. Pengalaman lapangan ini juga mengasah sensitivitas mahasiswa terhadap isu kesehatan lingkungan dan toksikologi. Keberhasilan riset lapangan ini membuktikan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu memberikan perlindungan dini bagi kesehatan publik melalui pengawasan lingkungan yang ketat dan berkelanjutan di wilayah Bangka.