Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai penghasil timah utama menghadapi tantangan kesehatan lingkungan yang serius, terutama terkait dampak debu timah terhadap sistem pernapasan manusia. Mahasiswa Stikes Bangka secara intensif melakukan penelitian lapangan untuk mengukur tingkat penurunan fungsi paru pada pekerja tambang dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri peleburan (smelter). Riset ini bertujuan untuk memberikan data objektif mengenai risiko pneumokoniosis dan gangguan pernapasan kronis lainnya yang seringkali terabaikan demi mengejar target produksi pertambangan.
Dalam riset mengenai dampak debu timah, mahasiswa menggunakan metode spirometri untuk mengukur kapasitas paru responden secara berkala. Temuan di lapangan seringkali menunjukkan adanya korelasi antara durasi paparan debu tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai dengan penurunan volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1). Partikel mikro dari debu timah yang terhirup secara terus-menerus dapat mengendap di alveolus, memicu peradangan jaringan paru yang bersifat ireversibel. Data ini menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyusun rekomendasi kebijakan kesehatan kerja yang lebih ketat bagi perusahaan tambang.
Edukasi mengenai dampak debu timah juga dilakukan mahasiswa sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Banyak pekerja tambang rakyat yang belum menyadari bahaya jangka panjang dari menghirup debu sisa pemurnian timah karena efeknya yang tidak langsung terasa. Mahasiswa memberikan pelatihan cara penggunaan masker respirator yang benar dan pentingnya pemeriksaan rontgen paru secara rutin. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat meminimalisir angka kesakitan pada usia produktif di Bangka, sehingga kekayaan alam yang dihasilkan tidak berdampak pada beban kesehatan yang berat di masa tua.
Riset berkelanjutan tentang dampak debu timah ini juga mengeksplorasi kemungkinan akumulasi logam berat dalam tubuh melalui jalur pernapasan yang bisa berdampak pada organ lain seperti ginjal dan sistem saraf. Stikes Bangka berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam menyuarakan isu kesehatan lingkungan ini. Hasil riset mahasiswa diharapkan tidak hanya berakhir di perpustakaan, tetapi mampu mendorong pemerintah daerah untuk memperketat regulasi AMDAL dan perlindungan tenaga kerja, memastikan bahwa aktivitas ekonomi pertambangan dapat berjalan selaras dengan standar kesehatan masyarakat yang layak.
